Ekspektansi Pendidikan Kita – Syamsul Bahri, MA

06-10-20 admin 0 comment

Syamsul Bahri MAN 2 Banda Aceh - Ekspektansi Pendidikan Kita - Syamsul Bahri, MA

 

EKSPEKTANSI PENDIDIKAN KITA

Syamsul Bahri, MA

(Guru MAN 2 Banda Aceh/ Peneliti Di LSAMA Aceh)

 

             Setelah artikel saya di laman Opini Harian Serambi Indonesia (3/7-201) berjudul “Quo Vadis Pendidikan Kita” terpublis, beberapa teman memberikan komentar, baik secara lisan ketika kami berdiskusi, maupun tulisan melalui media sosial. Secara umum mereka membenarkan apa yang saya sampaikan, yaitu banyaknya ketimpangan pendidikan kita sekarang ini, sehingga membuat mutu pendidikan kita rendah. Dan pada acara “Rapat Kerja Penguatan KKG, MGMP, dan KKRA” (18 Juli 2019 di MAN 1 Banda Aceh), kepala Kemenag Kota Banda Aceh juga menyinggung tentang kualitas pendidikan ini. Terutama pada persoalan pembinaan karakter siswa. Bapak Asy’ari mengatakan persoalan karakter peserta didik harus menjadi perhatian guru semua, dan yang paling penting dalam pembinaan karakter tersebut yaitu guru harus menjadi teladan bagi muridnya. “Sebelum membina karakter siswa, maka guru sendiri harus berkarakter, dan menunjukkan kepada siswa karakter tersebut.”

                Bagi kalangan guru, mereka telah cukup banyak mendengar tentang persoalan ini. Terkadang ketika ada orang yang mempersoalkannya, kemudian fokus persoalan itu tertuju pada guru, ini membuat guru seolah-olah sebagai subjek salah. Hal ini mengundang tanda tanya dari guru, apa yang belum kita lakukan? Karena bagaimanapun guru telah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat yang terbaik.

               Menjadi guru tidak mudah, itu kata Prof Jamaluddin Idris, ketika memberi materi di kegiatan MGMP tersebut. Hal ini dikarenakan tanggung jawab guru sangat besar, yaitu mendidik anak sejak dini, hingga mereka menjadi orang yang sukses. Kalau seorang siswa telah dibentuk dengan benar, maka siswa itu akan sukses, sedangkan kalau salah, maka mereka akan gagal dalam hidupnya. Sama seperti seorang petani yang menanam padi, bagus atau tidaknya padi tergantung bagaimana ia merawatnya. Sukses atau tidaknya seorang siswa bisa ditandai dalam tiga kriteria, pertama; perubahan pada perilakunya (afeksi), kedua; perkembangan intelektualitasnya (kognisi), dan ketiga; memiliki skill dalam hidupnya  (psikomotorik). Tiga domain ini adalah tujuan dari praktik pendidikan itu sendiri.

Rumah pendidikan utama

               Persoalan kualitas pendidikan adalah tanggung jawab kita semua. Saya sebut semua, berarti semua komponen pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Persoalan ini memiliki mata rantai yang cukup panjang, berkelindan, sehingga menguras energi dan pikiran kita. Kita harus senantiasa berpikir progresif, praktis dan kontinuitas, demi meningkatkan mutu pendidikan ini.

            Keluarga adalah unit pertama yang diembankan tugas pendidikan. Karena apapun yang diajarkan guru di sekolah jika tidak didukung keluarga, maka hasilnya nihil. Anak-anak yang datang ke sekolah membawa sejuta memori, dan perasaan. Memori adalah unsur penting pembentukan karakter dan intelektual. Begitu juga perasaan. Ketika memori anak rusak, maka ia akan sulit menerima ilmu ataupun mendengar nasehat guru. Sama seperti memori HP, jika rusak atau terkena virus, maka tidak bisa menerima file luar. Hanya teknisi hebat yang dapat memperbaikinya. Sedangkan tidak setiap sekolah memiliki guru seperti ini.

           Memori yang dibawa anak dari dalam keluarga menjadi penentu mood anak di sekolah. Sejauh mana ia punya mood, sejauh itu pula daya serap ilmu dari guru. Jika rumah bukan pendidikan utama, maka jangan harap guru di sekolah dapat melakukannya menjadi lebih baik. Orang tua yang perduli pada anaknya adalah mereka yang bertanya apa saja yang mereka lakukan di sekolah? Siapa saja temannya? Apakah ada masalah? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini alamiah dan disesuaikan dengan keadaan si anak. Apapun kesibukan orang tua, bertanya tentang sekolah anak, adalah nutrisi mereka untuk menjadi lebih baik.

Ekspektansi kita ke depan.

               Teori ekspentansi (expentancy theory) dikemukakan oleh Victor H. Vroom pada tahun 1964. Dia berpendapat bahwa kekuatan yang memotivasi seseorang untuk kerja keras tergantung dari hubungan timbal balik antara apa yang diinginkan atau dibutuhkan dari kerja tersebut. Ekspektasi (harapan) ada dalam setiap diri individu. Orang punya harapan makanya dia hidup, jika tidak punya harapan, seperti mayat berjalan. Hidupnya tidak punya tujuan. Dalam istilah lain, harapan merupakan satu penggerak utama yang menjadikan seseorang untuk melakukan tindakan.

                Teori harapan dapat diartikan sebagai kekuatan atas sesuatu untuk bertindak dengan menggunakan suatu cara tertentu yang didasarkan atas suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan menghasilkan sesuatu bagi dirinya. Dalam istilah yang lebih sederhana, teori harapan menggambarkan seorang karyawan diberi dorongan (motivasi) untuk menjalankan tingkat usaha yang lebih tinggi apabila ia meyakini bahwa usaha tersebut dapat membawanya pada suatu penilaian kinerja yang baik. (Victo Vroom dalam Robbin: 2003, 229).

           Karena usaha keras, maka maka hasil akhir akan sesuai dengan tujuan. Merujuk pada pemikiran Vroom, seseorang akan memaksimalkan usaha dan meminimalkan segala yang menghalangi pencapaian hasil maksimal. Dengan merujuk pada teori ini pula, seorang guru yang bekerja keras dengan harapan pendidikan akan menjadi lebih baik, maka guru itu harus dipenuhi segala kebutuhannya.

            Nah, di sinilah teori ekspentasi dipertanyakan. Karena teori ini cenderung membuat hidup manusia hedonistik. Hedonik, berawal dari pandangan hidup materialisme-pragmatisme (hedonisme). Apakah perilaku kita hedonik? Ketika gaji, berapapun yang ada, tidak membuat kita bahagia, maka kita telah terjatuh dalam jurang hedonisme. Kebutuhan hidup tidak akan pernah cukup jika dilihat dari perspektif pragmatisme. Semakin gaji naik atau dinaikkan, atau semakin seseorang banyak uang, maka kita sudah termakan kesenangan duniawi.  Tetapi kita tidak hipokrit, siapa yang tidak membutuhkan fasilitas hidup yang cukup. Namun orang bijak memperlakukan fasilitas untuk hidup bukan hidup demi fasilitas.

               Tetapi jika kita diberi apresiasi dengan materil ini atas dasar kerja maksimal, maka kita tidak akan terjatuh dalam sikap hedonis. Seorang guru yang disertifikasi adalah mereka yang sudah bekerja professional. Mereka telah lulus uji kelayakan dari pemerintah, dan dipercayakan menjadi corong utama yang memotivasi guru lain untuk menjadi professional. Namun persoalan kita hari ini, ketika guru sudah sertifikasi, dan insentif bulanan sudah bertambah, guru tersebut diberi beban mengajar paling banyak. Selain jam pelajaran, ditambah lagi dengan teknikal-administratif yang harus dimiliki. Akhirnya kerap kali subtansi menjadi terlupakan. Kepakaran guru sertifikasi menjadi memudar bahkan kandas dikarenakan beban dan teknikal itu. Apakah pemerintah mesti berbuat aturan seperti itu? artinya ketika guru telah disertifikasi, maka mereka punya jam mengajar paling banyak? Hari ini, seorang guru akan sibuk untuk memperoleh jam mengajar sebagaimana ketentuan yang berlaku, jika tidak cukup jam di sekolahnya, maka dia harus repot-repot mencari jam di sekolah lain. Kalau tidak, insentif sertifikasi tidak dapat dicairkan.

                  Pada akhirnya pemerintah memberikan kesejahteraan bagi guru sertifikasi namun membuat aturan yang justru menjadikan guru “kerepotan” karena memenuhi jam pelajaran. Idealnya, dalam teori ekspektansi pendidikan; karena tujuan sertifikasi guru berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan, seharusnya guru itulah yang harus diberi waktu untuk membuat terobosan-terobosan di sekolahnya. Berbuat kreatif mengajarkan muridnya menciptakan produk (barang) atau jasa-jasa terbaru. Karena sesungguhnya bukanlah professor di kampus yang lebih memahami anak didik sekolah, melainkan guru itu sendiri di sekolahnya. (syamsulbahri167@ymail.com)

Artikel ini sudah tayang di Harian Media Serambi Indonesia pada kolom Opini 25 Juli 2019



Leave a reply

6 + ten =