Gadis Berkabut Asap – Cerpen Oleh Ridhia Zahraini

16-01-21 Osim MAN 2 Banda Aceh 0 comment

“GADIS BERKABUT ASAP”

RIDHIA ZAHRAINI

Siswa Kelas XII IPA I MAN 2 BANDA ACEH

Ridhia MAN 2 BANDA ACEH 1 226x300 - Gadis Berkabut Asap - Cerpen Oleh Ridhia Zahraini

Wanita itu berusia kira-kira 45 tahun. Dia membenarkan kain sarungnya yang sedikit melorot ke bawah. Tangan kanannya cekatan mengambil sebuah piring di rak. Piring itu dia berikan kepada seorang pemuda rambut gondrong.

Tidak ada senyum mengembang. Wajahnya nampak keriput, seperti sudah tua, tapi belum begitu tua. Pemuda rambut gondrong itu tersenyum sendiri. Mungkin saja dia sedang menertawakan bongkahan putih nasi. Kepalanya geleng-geleng. Dia bersiul sambil mengisi nasi dalam piringnya.

“Utang kemarin belum kamu bayar.” Ujar wanita itu sambil membungkus nasi.

Pemuda itu tidak peduli, mungkin saja dia tidak mendengarnya. Senyuman itu masih mengembang. Wanita itu lebih banyak muram.

“Ada apa mak! Why cemberut begitu? ” Sebut anaknya datang menghampiri.

“Tidak apa-apa?” ​​Jawabnya. Wajahnya sedikit mendingin.

Gadis itu adalah anaknya. Dia membantu maknya jualan nasi di sebuah warung kopi. Warung pinggiran kota Banda Aceh. Ramai dengan pengungjung. Ramai juga dengan para pemuda, ada yang merokok, bahkan ada yang hisap ganja.

Mawar, sala nama gadis itu. Gadis yang berumur 17 tahun ini selalu menjaga kesehatannya dari hal-hal berbahaya baik dari segi bentuk narkotika atau sejenisnya. Ia mempunyai impian untuk menjadi seorang dokter oleh karena itu ia sangat menjaga kesehatannya. Tapi, lingkungannya tidak mendukug.

Mawar sekolah di madrasa aliyah. Pulang sekolah dia langsung ke warung. Membantu maknya menjual nasi. Padahal hati kecilnya memberontak. dia tidak senang berada di warkop itu. Dia hates tiap senyuman pemuda kampung. Tetapi, dia hanya memiliki satu-satunya orang tua. Maknya.

Jarung jam berdenting menuju angka 8. Penghuni Warkop semakin ramai. Warkop ini memang terkenal di Banda. Selain karena perbatasan di perbatasan, rasa kopinya pun begitu enak.

Mawar sama sekali tidak menggubris apa yang pemuda bicarakan dalam warkop. Tapi dia sadar, pemuda itu sering meliriknya. Dia serius membantu maknya. Dia terus merapikan piring-piring untuk dimasukkan dalam lemari kecil. Warung nasi akan ditutup. Maknya hanya membuka lapak dan membayar sewa kepada pemilik warung, yang tak lain adalah tetangganya. Maknya sedang mengumpulkan menu makanan untuk dibawa pulang.

Biasanya pada sabtu mawar ajakan untuk mengerjakan tugas kelompok di warung makan, sesampai disana yang terkejut melihat lingkungan disana penuh dengan orang-orang yang mengkonsumsi rokok, teman-teman mawar tidak terganggu dengan asap rokok para perokok.

“Mawar ..” panggil Siva teman sekelasnya. “Banyak perokok di sini. Kami pulang saja ya. ” akhirnya mereka pulang dan tidak kerja kelompok.

Mawar pun mengiyakan. Dia tahu perokok pasif lebih berbahaya dari perokok sebenarnya. Mawar adalah gadis imut yang telah lama ditinggal. Sejak dia berumur 4 tahun. Dia seperti tidak mengenal dewa. Hanya ada satu poto usang terpajang di dinding rumah. Sekali-kali dia pandangi itu. Untuk mengenang bagaimana kehidupan kehidupan dulu. Apakah performa juga perokok? Atau juga pernah hisap ganja? Ganja bagaikan hantu bagi kehidupannya. Pikiran itu memang sering terjadi, karena dia sangat benci bencinya pada barang haram itu. Tetapi dia tidak dapat menghindar dari pemuda-pemuda warkop itu.

“Tidak dek, jangan pikir yang bukan-bukan. Ayahmu dulu seorang Keuchik di kampung ini. Mana mungkin dia hisap ganja. ” Jawab maknya ketika itu.

Gadis ini cinta mengaji. Ia mampu membaca al-Qur’an dengan bagus dan indah. Pernah ikut lomba tilwah al-Qur’an antar kabupaten, ia berhasil mendapat piala. Gadis bercita-cita jadi dokter. Dia punya semangat baja. Semangat mencapai cita-cita.

Dia memang anak pintar, tapi dia syringe. Dia sedih ketika merenungi dirinya yang lelah berjuang demi sekolah. Demi maknya yang sudah tidak akan muda lagi. Ia sering menengadah ke atas langit Tuhan waktu malam, menyaksikan keindahan cakrawala semesta, sambil merenungkan di mana berada, apa yang dia lakukan, apakah dia tahu dirinya juara satu kelas? Apakah tahu kalau dia ingin minggat dari kampung ini?

Nak, ayahmu lulusan sarjana. Pendidikan adalah nomor satu batasan. Kamu tahu, kalau bukan karena tsunami mungkin hidup kita tidak seperti ini. Tapi kita harus tegar. Kamu harus punya cita-cita tinggi. Itu keinginan ayahmu. ”

Kata-kata itu terngiang-ngiang ditelinganya. “Kamu harus punya cita-cita tinggi. Itu keinginan ayahmu. ” Inilah motivasinya belajar dan terus belajar.

Sejak dimulai sekolah sehari penuh, rasa-rasanya tiada hari berhenti untuk istirahat. Dia berjalan kaki ke sekolah. Begitu juga waktu pulang, meskipun kadang-kadang diantar, Siva. namun seringnya ia jalan kaki. Jarak rumah dan sekolah kira-kira dua kilo meter. Setelah melepaskan seragam sekolah, ia langsung ke warung.

Mereka tiba di rumah. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan. Tiba-tiba ia memegang tangan maknya. Memeluknya. Dia pun menangis.

“Maafkan aku mak. Aku pikir mak tidak sayang padaku. Maafkan mak .. ”

“Astagfirullah, kenapa kamu dek, kenapa berpikir seperti itu? Mak sangat menyayangimu. Kamu adalah nomor satu yang mak cintai di dunia ini. ”

“Aku tidak mengerti. Aku merasa lelah. Bukan lelah karena membantu mak jualan. Tapi aku tidak senang pada pemuda-pemuda di warkop itu. ”

“O begitu, sabar ya sayang, sabar. Mak mengerti. Mak akan selalu menjagamu. Pemilik warkop itu tetangga kita. Dia baik orangnya. ”

“Aku tidak tahan lihat mereka. Mereka juga hisap ganja mak, aku tahu. Warung itu penuh asap rokok. Aku lapor polisi saja, boleh? ”

“Astagfirullah, jangan dek. Itu urusan mereka, jangan kita ikut campur. ”

“Kita pindah warung saja mak.”

“Insya allah, tapi saat ini di warung itu laris, hampir bagus. Terjangkau untuk banyak orang. Banyak yang beli. Orang-orang sering berhenti di warung kita. Mereka berasal dari berbagai daerah. Kita harus bersabar ya nak. ”

“Besok kamu cukup datang waktu mau tutup warung saja. setelah magrib. Supaya kamu tidak lama-lama di warung. Lagian , pemuda-pemuda itu hanya malam hari. Siang hari mereka tidak berani. ”

“Baik mak ..”

Namun Mawar tetap pada pendirian. Dia tidak ingin maknya sendirian. Siapa lagi kalau bukan dirinya yang membantu. Bagaimana kalau maknya jatuh sakit karena bencana. Karena itu, dia bersikukuh, kapanpun waktu luang dia pergi ke warung. Mak hanya satu. Sedangkan orang mabuk-mabuk mungkin akan selamanya ada.

“Aku harus kuat.” Ucapnya dalam hati.

Detik berganti detik dia tetap menemani maknya di warung. Ia menjadi terbiasa berada dalam kepulan asap rokok. Ada juga rokok ganja. Asap-asap racun yang dikeluarkan. Tidak dipedulikan. Aroma yang semakin nyata semakin nyata. Sehingga aroma itu sering diciumnya. Dimanapun dia berada dengan mudah dapat dikenali orang hisap ganja seperti ini.

Bulan berganti bulan. Warung itu menjadi tempat yang aman untuk mengedar ganja. Bang Man pemilik warung, memperoleh untung dari penjualan ganja. Mawar tahu perasaanakan. Tapi dia biarkan. Dia tidak peduli. Setelah tamat sekolah nanti, ia akan pindah dari kampung. Maknya seperti itu.

Mawar menulis semua peristiwa dalam buku diarinya. Buku itu tertutup. Hanya dia yang tahu isinya. Segala baik dan buruk tertulis dalam buku kecil itu. Maknya sering melihat perbuatannya, ketika ditanya apa yang ditulisnya, Mawar menjawab hanya menulis catatan harian.

Bakat menulisnya oleh gurunya di sekolah. Pada setiap perlombaan karya tulis Mawar sering mendapatkan juara. Gurunya berkata, karya tulisnya sangat bagus, seperti nyata.

Meskipun Mawar hanya menulis apa yang dia alami sehari-hari.

Seminggu kemudian Mawar mulai membawa buku ke warung. Ia harus lebih banyak lagi belajar untuk menyongsong ujian akhir sekolah. Dia ingin lulus ujian dengan nilai bagus. Agar bisa diterima di kampus hebat. Padahal maknya ingin dia belajar di rumah saja. Tapi Mawar tetap bersikukuh bahwa dia bisa belajar sambil bekerja.

Ada beberapa siswa satu sekolah menganggunya belajar. Mereka kadang melontarkan kata-kata yang tidak enak di dengar ..

“Untuk apa rajin belajar, kalau nanti menjadi penjaga warung nasi …”

TAPI Mawar tidak menghiraukan. Meskipun jengkel, dia diam saja.

“Aku tidak mau diganggu. Aku tidak takut pada kalian. ” Sebutnya pada suatu hari.

Setelah dia belajar rajin akhirnya dia mengikuti ujian dengan sukses. Semua siswa serius mengikuti ujian. Semua ingin lulus.

“Aku ingin masuk kedokteran. Aku harus lulus. ” Ucapnya dalam hati.

Ujian sudah selesai dilaksanakan. Kini saatnya para siswa menunggu pengumuman. Sedangkan Mawar tetap membantuk maknya di warkop. Dari pagi sampai malam di sering di warung. Karena sekolah libur. Tunggu pengumuman. Ujian paling besar batasan adalah berada di warkop itu. Dia benci orang-orang hisap apalagi rokok. TAPI dia tidak bisa didasarkan pada apa-apa.

Pada sabtu pagi dia pergi ke warung. Seperti biasa dia bantu maknya. Dia pergi jalan kaki. Tiba-tiba dia terjatuh pingsan. Dia terjungkal menghantam tanah. Kemudian datang orang-orang menolongnya. Maknya juga datang. Orang berkerumun. Kemudian dia dibawa ke rumah sakit.

Mawar, anak yatim. Tapi punya cita-cita menjadi dokter.

Padahal hari senin akan ada pengumuman lulus ujian. Karena sudah satu minggu selesai ujian. Tapi mawar sudah masuk rumah sakit.

Orang yang menjaganya adalah maknya. Tiba-tiba Mawar sadar. Dia lihat maknya di sampingnya.

“Mengapa aku di rumah sakit, mak?” tanyanya

“Kamu jatuh pingsan anakku ..” Jawab maknya.

“Mak, aku pusing sekali. Aku mau muntah. ” Jawab Mawar. Suaranya terdengar begitu ringan, seringan kapas putih yang terbang. Sangat lemah.

Kemudian seorang dokter masuk ruangan. Di tangan seorang dokter laki-laki itu ada selembar kertas. Dokter itu memanggil maknya.

“Ibu, anak ibu ternyata menggunakan narkoba. Ini hasil cek darahnya. Dia pingsan karena itu. ” Ucap dokter itu.

Maknya menangis tersedu-sedu.

“Dia tidak menggunakan narkoba narkoba dokter ..” jawab maknya.

“Tapi ini hasil cek darahnya. Kami tidak bohong. ”

Dari arah depan pintu Mawar tahu apa yang mereka bicarakan. Dia lemas tapi bisa mendengar pembicaraan mereka. Mawar menangis tersedu-sedu. Maknya datang menghampirinya.

“Tidak sayang, apa yang kamu dengar itu tidak benar. Mak yakin, itu bukan hasil tes darah yang benar. ”

Mawar menangis. Dia menggunakan maknya.

“Aku tidak menggunakan narkoba mak. Tapi aku sering cium asap ganja. Mungkin karena itu mak. ” Jawabnya sambil menangis.

“Tidak apa-apa anakku. Kita akan obati. ”

“Mak, aku tidak mungkin jadi dokter mak. Aku narkoba positif. Aku cita-cita jadi dokter mak. ”

“Ya sayang. Mak tahu. Tapi kita obati. Tenang saja. kata dokter masih bisa diobati. ” Jawab maknya.

Setelah kejadian tersebut Mawar menjadi anak pemurung. Hasil ujian sudah diumumkan. Dia lulus dengan nilai paling bagus. Tapi apakah dia bisa masuk kuliah kedokteran.

“Ya allah, aku berlindung diri dari asap-asap ganja ..”

Setiap hari dia berdoa. Dan dia juga berobat. Kata dokter dia harus direhablitasi. Maknya sadar bahwa perokok pasif jauh lebih berbahaya dari perokok aktif. Apalagi perokok ganja yang memabukkan. *



Leave a reply

2 × 4 =