Millenial Membaca Aceh Berjaya – Adam Arinal Ibadi

05-10-20 admin 0 comment

Adam Arinal Ibadi MAN 2 Banda Aceh - Millenial Membaca Aceh Berjaya - Adam Arinal Ibadi

 

MILLENIAL MEMBACA, ACEH BERJAYA

Nama : Adam Arinal Ibadi

MAN 2 BANDA ACEH

           Saya membaca bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah, misalnya, hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2015, menyebutkan “rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia.” Ini adalah hasil penelitian terhadap 72 negara. Respondennya adalah anak-anak sekolah usia 15 tahun, jumlahnya sekitar 540 ribu anak 15. Sampling error-nya kurang lebih 2 hingga 3 skor. Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Data ini bisa kita baca dari website PISA yaitu;  http://www.oecd.org/pisa/

             Kemudian hasil penelitian dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama “The World’s Most Literate Nations”, menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60, dari 61 negara yang disurvey. (Detiknesw, 5 Jan 2019).

            Hal ini diakui oleh Pustakawan Nasional RI, Priyo Sularso, “Rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, di mana pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia.” Untuk itu dia menyampaikan cara agar minat baca meningkat, di antaranya yaitu: 1) Bangunlah Motivasi Minat Membaca; 2) Mulailah Membaca Sesuatu yang Kita sukai; 3) Menyisihkan waktu yang tepat dan nyaman untuk Membaca; 4) Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu; 5) Minta Seseorang Merekomendasikan Buku.

           Dari beberapa literatur yang saya telusuri ada berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca, di antaranya yaitu; belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Saya sering duduk bersama teman, berdiskusi di sekolah, ada teman-teman mengatakan pada saya bahwa orangtuanya paling sering bertanya apa ada buat PR sekolah? Jarang bertanya “apa ada membaca hari ini?”. Faktor lain yang juga sangat penting yaitu akses baca ke pustaka masih sulit. Jika di era digital ini orang mengakses layanan perpustakaan secara online, kadang mereka juga tidak tahu cara aksesnya. Apalagi jika perpustakaan belum menyediakan akses buku online, ada e-book, ada e library. Di kampung saya tidak ada buku-buku bacaan yang ditempatkan di kampung. Apakah tidak memungkinkan untuk mengadakan buku-buku terbaru ke dalam meunasah?

           “Dimensi kecakapan bisa dilihat dari indikatornya berupa bebas buta aksara dan rata-rata lama sekolah, sedangkan dimensi akses, terdiri dari perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, dan perpustakaan sekolah. Kemudian, untuk dimensi alternatif ini selain yang konvensional, yaitu penggunaan internet, membaca daring, dan media online. Adapun dimensi budaya dimaknai sebagai bagian dari kebiasaan membaca, misalnya meminjam buku di perpustakaan, memanfaatkan taman bacaan, serta membaca koran dan buku. “(Kompas, 23/06/2019).

          Dalam Komunitas Jambo Literasi di sekolah kami, mentor kami sering menyampaikan bahwa membaca dapat meningkatkan kemajuan banga. Membaca adalah modal awal kita merah kesuksesan dan kemajuan. Bahkan sesungguhnya membaca adalah anjuran penting dalam agama Islam, bahkan ayat pertama turun yaitu surat al-Alaq ayat 1 “ Iqra bismirabbikal ladzi khalak” bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan” artinya kita disuruh membaca. Membaca di sini dapat berarti membaca buku, mengkaji alam semesta, meneliti dan menulis. Artinya kita harus melaksanakan agama kita jika kita ingin maju.

         Ada berbagai hal yang telah dilakukan pemerintah kita untuk menaikkan minat baca masyarakat khususnya para siswa, seperti memberi akses selebar-lebarnya terhadap penggunanaan pustaka baik manual maupun online, bahkan sampai mengadakan perpustakaan mini di kampung-kampung meskipun belum merata. Untuk tingkat sekolah juga begitu.

           Di samping itu, pemerintah kita juga mengadakan event pemilihan duta baca, seperti yang dilaksanakan pada hari ini. Saya sangat tertarik mengikuti lomba ini, karena selain mendapatkan pengalaman, saya yakin teman-teman di sini adalah terpilih dari sekolah. Dan akan menjadi duta sekolah yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu saya tertarik untuk membuat beberapa terobosan untuk menaikkan minat baca khususnya pada siswa yaitu;

  1. Meningkatkan minat baca siswa melalui pengadaan event atau show. Dalam show tersebut ada akses buku dari perpustakaan
  2. Mengajak teman-teman dari sekolah untuk membuat komunitas literasi. Demikian juga mengajak perpustakaan Banda Aceh agar membuat jadwal atau scedul “pustaka bergerak” ke masing-masing sekolah.
  3. Setiap siswa memiliki akun atau username untuk akses pustaka dan memiliki kartu perpustakaan.
  4. Digital literasi, yaitu mempublikasikan motivasi membaca melalui media sosial. Membuat dan menviralkan meme-mema dan hastagg yang berhubungan dengan literasi. Misalnya “aceh carong karena membaca” “sisihkan uang sebungkus rokokmu demi buku anakmu” “siswa cerdas satu minggu satu buku” “millenial membaca millenia berjaya”, dan lain-lain sebagainya.
  5. Membuat dan mengadakan game edukasi. Game tidak bisa dipisahkan dari generasi millenial, namun game juga harus mencerdaskan bukan menyita waktu sia-sia.
  6. Memperkuat dan mengembangkan komunitas literasi.

            Milenial paling sering mengakses internet melakui android atau smartphone. Bahkan menduduki pengguna internet cukup banyak di dunia ini, oleh karena itu era sekarang ini digital literasi menjadi keharusan. Apalagi, saya mendengar dari guru saya bahwa pada tahun 2030-2040 nanti Indonesia mengalami bonus demografi. Yaitu jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Nah, jika millenial sekarang kurang minat baca, maka kita tidak dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Oleh karena itu mari kita generasi millenial membangkitkan minat baca kita, demi Aceh berjaya.

Artikel ini diikut lombakan dan dipresentasikan secara Simposiium pada lomba Duta Baca Dinas Perpustakaan Banda Aceh, dan Adam Arinal berhasil memperolah juara III.



Leave a reply

four × 2 =